
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hampir tidak ada orang yang tidak suka menonton televisi. Televisi sebagai media informasi dan hiburan sudah sangat terkenal di seluruh nusantara. Televisi sangat mudah memikat penontonnya, terutama anak-anak yang masih minim pengetahuan dan pengalaman dengan berbagai macam acara yang menyenangkan. Hampir seluruh waktu anak-anak tersita dengan menonton televisi. Bahkan waktu belajarpun terbuang percuma ketika seorang anak sedang menonton televisi. Karena ketika seorang anak telah mnyukai sebuah acara televisi maka anak tersebut enggan meninggalkan televisi walaupun pada waktu belajar. Hal ini akan sangat mengkhawatirkan apabila kondisi ini akan terus menerus terjadi.
Televisi sebagai media hiburan juga menyediakan program-program yang menyenangkan, terutama bagi anak-anak. Tanpa mereka sadari bahwa program tersebut dapat pempengaruhi tingkah laku dan sikap mereka, sesuai dengan tokoh-tokoh yang mereka idolakan. Padahal sebagian besar acara televisi termasuk acara anak-anak banyak menyuguhkan tayangan yang tidak pantas untuk anak-anak, misalnya saja adegan kekerasan, kejahatan, dan adegan percintaan yang sangat tidak pantas untuk anak-anak.
Walaupun demikian, dengan melihat potensi yang dimilikinya, televisi bisa saja dijadikan sebagai salah satu sumber belajar anak. Terutama karena televisi bisa membuat penontonnya bisa merasakan langsung peristiwa yang terjadi dalam acara tersebut. Tapi sekarang tinggal bagaimana pengolahan acara televisi sehingga bisa sebagai sumber belajar anak. Disamping peran orang tua yang selalu mendamping anak dan memilihkan acara yang sesuai untuk anak.
1.2 Rumusan masalah
Dari latar belakang yang ada, dapat dperoleh beberapa masalah antara lain:
a. Apakah televisi dapat memacu kreatifitas anak?
b. Program televisi yang seperti apa yang dapat memacu kreatifitas anak?
c. Bagaimana mengarahkan televisi agar dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar alternatif anak?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan karya ilmiah agar orang tua dan pendidik:
d. Dapat mengetahui bahwa televisi mampu memacu kreatifitas anak.
e. Untuk mengetahui program apa yag dapat memacu kreatifitas anak.
f. Untuk mengetahui manfaat televisi sebagai sarana belajar alternatif anak.
1.4 Manfaat Penulisan
g. Memberikan sumbangan pemikiran kepada masyarakat terutama orang tua dan pendidik agar dapat memanfaatkan televisi sebagai sarana belajar alternatif anak.
h. Memberikan pengertian kepada orang tua untuk selalu selektif dalam memilihkan program televisi anaknya dan selalu mendampingnya ketika menonton televisi.
i. Dapat memberikan kontribusi kepada instansi-instansi televisi yang terkait agar menayangkan program-program televisi yang tidak hanya menarik, tetapi bermanfaat bagi anak.
j. Mengembangkan kreatifitas penulis dalam membuat karya tulis yang bermanfaat untuk masyarakat.
BAB II
TELAAH PUSTAKA
2.1 Media Belajar
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti ”tengah”, perantara, pengantar pesan.
Fleming (1987) berpendapat bahwa setiap sistim pengajaran yang melakukan peran mediasi, mulai dari guru sampai peralatan canggih dapat disebut sebagai media. Ringkasnya media adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan pengajaran.
Heinich dkk (1982) mengemukakan istilah medium sebagai perantara yang mengantarkan inforamasi antara sumber dan penerima. Jadi, Televisi, film, foto, radio, rekaman audio, gambar yang diproyeksikan, bahan cetakan dan sejenisnya adalah media komunikasi. Ringkasnya media adalah alat untuk menyampaikan pesan oleh guru kepada siswa.
Media audio visual adalah media intruksional modern yang sesuai dengan perkembangan zaman, meliputi media yang dapat dilihat dan dapat didengar, Seperti : TV dan Film. Spesifikasi dari TV sebagai media internasional edukatif serta imflikasinya kedalam pendidikan antara lain:
1. Kenyataan yang ditayangkan kongret dan langsung
2. Melalui indra penglihatan dan pendengar,TV dapat membawa kontak dengan peristiwa nyata dan langsung
3. Memberikan tantangan untuk mengetahui lebih lanjut
4. Keragaman komunikasi
5. Keterangan ringkas yang diprogramkan bersifat komprehensif
Program TV yang dapat dijadikan sebagau media pembelajaran yaitu seperti : DORA (TV G), GO DIEGO GO (TV G), LAP TOP SI UNYIL (TRANS 7),
SI BOLANG (TRANS 7) dan lain sebagainya .
2.2Konsep Belajar
Sebagian terbesar dari perkembangan berlangsung melalui kegiatan belajar. Belajar yang disadari atau tidak, sederhana atau kompleks, belajar sendiri atau dengan bantuan guru, belajar dari buku atau dari media elektronika, belajar di sekolah, di rumah, di lingkungan kerja atau di masyarakat.
Belajar selalu berkenaan dengan perubahan-perubahan pada diri orang yang belajar, apakah itu mengarah kepada yang lebih baik ataupun yang kurang baik, direncanakan atau tidak. Hal lain juga yang selalu terkait dalam belajar adalah pengalaman, pengalaman yang berbentuk intraksi dengan orang lain atau lingkungan. Menurut Witherington (1952 h.165) belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola↔pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaaan, pengetahuan dan kecakapan. Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Crow dan hilgard. Menurut Crow and Crow (1962 h. 252) “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”, sedangkan Hilgard (1962 h. 252) “ belajar adalah suatu proses dimana suatu prilaku muncul atau barulah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”.
Mengenai peranan unsure pengalaman dalam belajar beberapa ahli menekankan hal tersebut dalam definisi mereka. Di Vesta dan Thompson (1970 h. 112) menyatakan ” belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dan pengalaman”. Senada dengan rumus tersebut Gage dan Berliner dan juga Hilgard memberikan definisi yang hampir sama. Menurut Gage dan Berliner (1970 h. 256) belajar adalah ………..suatu proses perubaha tingkah laku yang muncul karena pengalaman”. Sedangkan Hilgard (1983 h.630) menegaskan bahwa belajar dapat dirumuskan sebagai perubahan prilaku yang cukup permanen, yang terjadi karena pengalaman”.
2.3 Kreatifitas Anak
Salah satu kemampuan utama yang memegang peranan pennting dalam kehidupan dan perkembangan manusia adalah kreatifitas. Kreatifitas merupakan kemampuan yang dimilliki seseorang untuk menemukan dan menciptakan sesuatu hal baru, cara-cara baru, model baru yang berguna bagi dirinya dan masyarakat.
Drevdahl (Elizabeth B. Hurlock) menyatakan kreatifitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Ia dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintresis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman. Ia mungkin mencakup pembentukan pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya dan pencangkokan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi baru yang harus mempunyai maksud atau tujuan yang ditentukan bukan fantasi semata, walaupun merupakan hasil yang sempurna dan lengkap. Ia mungkin dapat berbentuk produk seni kesusastraan, produk ilmiah, atau mungkin bersifat prosedural atau metodoligis.
Utrami Munandar (Nana Syaodih Sukmadinata) menyatakan kreatifitas adalah kemampuan adalah: a) untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi atau unsur yang ada, b) berdasarkan data atau informasi yang tersedia, menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, dimana penekanannya adalah pada kualitas, ketepatgunaan, dan keragaman jawaban, c) yang mencerminkan kelancaran, keluesan, dan orisinilitas dalam berfikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi suatu gagasan.
Jadi, kreativitas adalah suatu kemampuan membuat kombinasi baru berdasarkan informasi yang tersedia, dengan menemukan berbagai jawaban terhadap suatu masalah yang ditekakan pada kualitas yang mencerminkan keluesan dalam berfikir.
BAB III
METODE PENULISAN
A. Telaah Kepustakaan
Teknik Kepustakaan, dilakukan diperpustakaan dengan melihat data-data ataupun buku-buku yang berguna sebagai acuan untuk landasan teoritis.
B. Sumber-sumber lain
Selain dari buku-buku, disini kami juga mengambil informasi dari media cetak dan elektronik sperti TV disini kami melakukan pengamatan dengan menonoton TV selama satu minggu untuk mengetahui program anak yang dapat dikaitkan dengan permasalahan yang kami angkat dalam penbuatan karya tulis ini.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Memacu Kreatifitas Anak dengan Media TV
Akhir-akhir ini banyak sekali anak-anak yang tidak suka untuk belajar. Mereka malas untuk belajar dan lebih cenderung untuk menghabiskan waktunya untuk bermain-main dan bermalas-malasan terutama didepan televisi. Karena televisi sangat mudah menyetuh emosinal anak. Sehingga untuk itu, televisi harus dimanfaatkan seoptimal mungkin, karena televisi sendiri mempunyai potensi yang sangat besar sebagai media belajar anak-anak. Hal ini dikarenakan televisi merupakan media audiovisual yang dapat memberikan pengalaman-pengalaman tersendiri dan menimbulkan kesan mendalam.
Kesan mendalam itu akan memudahkan untuk mengingat kembali, sehingga mudah menimbulkan daya fantasi dan imajinasi anak. Demikian pula pengalaman yang didapat melalui pengamatan, membantu perbendaharaan pengetahuan yang lebih luas dan akhirnya anak-anak akan berkembang cara berfikirnya. Hal itu akan berpengaruh terhadap tingkah lakunya dan menimbulkan gejala kejiwaan yang mendorong untuk melakukan sesuatu perbuatan, dan akan membantu perkembangan kreativitas anak.
4.2 Progran Televisi Yang Dapat Memacu Kreatifitas Anak
Jika sepuluh orang tua ditanyai mengenai apakah televisi bermanfaat bagi anak-anak atau tidak, mungkin lebih dari pada separuhnya menjawab bahwa televisi hanya merusak fikiran anak-anak. Menjawab iya atau tidak tentu ada salah dan ada benarnya, karena tayangan televisi untuk anak-anak sangat beragam.
Dari yang diketahui berbagai macam tayangan anak ditelevisi seperti: Dora (Global), KAI (TVe), Naruto (indosiar), Go Diego Go (Global), pembelajaran interaktif bahasa inggris (TVe), Si Bolang (Trans 7), Avatara ( Global), dan lain sebagainya. Akan tetapi tayangan-tayangan anak kini sudah tidak lagi aman bagi anak, karena mengandung kekerasan, dan pornograpi seperti Sinchan, Tom and jerry, Naruto, Kenshi/Samurai X, Conan,bakugan, dan lain sebagainya. Akan tetapi ada juga tayangan/program anak yang ditayangkan oleh TV-TV swasta yang berpengaruh positif bagi anak seperti Si Bolang, Laptop Si Unyil; Go Diego Go, Blues Clues, dan lain sebagainya. Dimana program ini secara tidak langsung anak dapat belajar dan memacu perkembangan berpikir, imajinasi emosi anak, maka tentu saja yang dibutuhkan adalah kepedulian menghadirkan tayangan yang baik bagi anak-anak.
Program KAI (Kreatifitas Anak Indonesia) dibuat oleh salah satu TV Swasta di Indonesia yaitu TVe,. Dimana tayangan ini menurut kami dapat memacu kreatifitas anak secara perlahan tapi pasti, karena berbagai jenis-jenis kreatifitas yang ditayangkan dan dibuat dengan arahan si pembawa acara.
4.3 Pemanfaatan Media TV Sebagai Belajar Alternatif Anak
Televisi mempunyai pengaruh terhadap pendidikan, asalkan melibatkan orang tua untuk memberi pengarahan. Sebab belajar pada hakikatnya tidak mungkin dapat dilakukan tanpa adanya usaha dari anak sendiri dan melibatkan pihak lain untuk aktif dalam proses belajar. Oleh karena itu, perlu digalakkan program melek televisi. Hal ini dapat dilakukan dilingkungan keluarga maupun dilingkungan sekolah. Di lingkungan keluarga misalnya, orang tua harus aktif mamantau acara-acara televisi dan mengarahkan anak-anaknya, acara mana yang tepat ditonton oleh anaknya, sedangkan di sekolah misalnya, guru-guru memeberikan tugas tertentu kepada anak-anak untuk memantau acara siaran televisi. Misalnya acara cerdas cermat, bahasa indonesia, bahasa inggris, matematika, acara pedesaan dan bahkan acara komposisi warna.
Setelah anak memberi laporan dan hasil pengamatan acara tersebut, dapat diteruskan dengan mendiskusikan hasil pengamatannya. Masalahnya adalah stasiun televisi harus menyebarkan susunan acaranya jauh sebelumnya dan tidak melakukan perubahan-perubahan yang berarti. Oleh karena itu, perlu adanya kerjasama antara sekolah dengan stasiun televisi. Pemberian tugas kepada anak-anak tersebut kiranya dapat dimasukan dalam kegiatan intra maupun ekstra kurikuler. Dengan jalan ini berarrti guru telah mengarahkan anak didiknya bagaimana cara menonton televisi dan apa saja yang harus ditontonnya. Dengan demikian guru dan orang tua sangat membantu mengubah anak menjadi lebih aktif dan akhirnya akan meningkatkan daya kritis dan kreatifitas anak.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpualan
1. TV sangat berpotensi mengembangkan imajinatif anak, serta berpengaruh terhadap tingkah lakunya dan menimbulkan gejala yang mendorong untuk melakukan sesuatu perbuatan, dan akan membantu perkembangan kreativitas anak.
2. Selain program acara TV anak yang mengandung unsur kekerasan dan pornogrfi. Ada juga program TV yang dapat memacu kreativitas anak seperti: DORA(TV G),KAI(TV e) dan lain sebagainya.
3. TV tidak hanya di jadikan sebagai media hiburan , tetapi juga dapat di manfaatkan sebagai media alternatif belajar anak.
5.2 Saran
Anak-anak umumnya senag belajar dengan melakukan berbagai hal, baik sendiri maupun dengan anda. Untuk itu para orang tua diharapkan mau :
- Membaca dan memilih acara TV yang dihadirkan media masa. Bila ada program yang anda nilai kurang cocok, jangan nyalakan pesawat TV.
- Buatlah bersama anak-anak seperti:
- Batasan-batasan waktu menonton TV
- Dibolehkan menonton TV setelah menyelesaikan tugas-tugas sekolah
- Dibolehkan menonto TV setelah makan
- Dinolehkan menonton TV setelah pulang sekolah
- Hubungkan program-program TV yang disaksikan dengan pengalanam-pengalaman anak anda.
DAFTAR PUSTAKA
Darwanto, SS. Drs. 2005. Televisi Sebagai Media Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hurlock, Elizabeth B. 1992. Perkembangan Anak. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Rohani, Ahmad HM. M. Pd. Drs. 1997. Media instruksional Edukatif. Jakarta:PT Rineka Cipta.
Sutimadinata, N.S. 2004. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Tim Penyusun. 2002. Sekolah Alternatif Untuk Anak. Jogyakarta: penerbit Buku Kompas.
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Berdasarkan Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang sistem pendiddikan nasional pasal 1, menyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif menggabungkan potensi dirinya, untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. (Depdiknas, 2003:9). Untuk itu inovasi dalam pembelajaran dilakukan pada semua mata pelajaran tidak terkecuali IPA. Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan cara mengajar suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam proses belajar-mengajar tersirat adanya suatu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. Mengajar adalah membimbing kegiatan belajar siswa sehingga ia mau belajar. Dengan demikian aktivitas murid sangat diperlukan dalam kegiatan belajar-mengajar sehingga muridlah yang seharusnya aktif, sebab murid sebagai subjek didik adalah yang merencanakan, dan ia sendiri yang melaksanakan belajar. Serta dalam pembelajaran IPA siswa dituntut harus aktif secara fisik, mental, intelektual, dan emosional untuk memperoleh hasil belajar yang merupakan perpaduan antara kognitif, afektif, dan psikomotor. Dalam pembelajaran IPA kebanyakan prestasi siswa kurang meningkat, Karena kurangnya keaktifan siswa dalam belajar. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru kelas yang bersangkutan, siswa masih sering merasa kesulitan dalam mengerjakan soal-soal setelah mendapat penjelasan dari guru. Guru dalam pembelajaran masih dominan menggunakan metode ceramah. Guru menyampaikan materi pembelajaran secara lisan dan tertulis, jarang menggunakan benda-benda konkret dalam menjelaskan konsep. Dari data hasil ulangan mid semester menunjukkan bahwa ≥50% siswa yang mampu mencapai standar kelulusan dengan perolehan nilai rata-rata kelas 6.0. Selain itu masalah yang terjadi yaitu suasana belajar masih terlihat kaku dan monoton, sehingga beberapa siswa yang memiliki catatan prestasi yang kurang tidak antusias, cenderung mengantuk, dan terlihat jenuh. Dari observasi yang dilakukaan terlihat rendahnya perolehan hasil belajar mata pelajaran IPA di SDN 06 Cakranegara menunjukkan adanya indikasi terhadap rendahnya kinerja belajar siswa dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang berkualitas. Untuk mengetahui mengapa prestasi siswa tidak seperti yang diharapkan, tentu guru perlu merefleksi diri untuk dapat mengetahui faktor-faktor penyebab ketidakberhasilan siswa dalam pelajaran IPA. Sebagai guru yang baik dan profesional, permasalahan ini tentu perlu ditanggulangi dengan segera. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Sri Yuni Astuti, 2001) adanya pengruh positif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa dengan menggunakan metode STAD, sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh I Made Suarjana (2000) Mengemukakan bahwa adanya peningkatan kemampuan guru dalam mengaplikasikan metode STAD dan prestasi belajar siswa cukup baik serta rata-rata kelas meningkat. Oleh karena dengan pembelajaran model STAD (student teams achievement division) memungkinkan dapat mengaktifkan siswa baik secara intelektual, emosional, fisik, dan mental. Sehingga terjadinya perpaduan antara kognitif, afektif, psikomotor dalam perolehan hasil belajar, karena dimana model ini merupakan model interaksi yang berpusat pada kegiatan kelompok dan dapat diterapkan dalam kelas yang heterogen. Pada model STAD siswa diberikan kesempatan untuk melakukan kolaborasi dan elaborasi dengan teman sebaya dalam bentuk diskusi untuk memecahkan suatu masalah. Dalam belajar IPA model STAD (student teams achievement division) ini sangat tepat diterapkan pada latihan-latihan soal ataupun pemecahan masalah dan dapat menjadi alternative untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPA. Rumusan Masalah Dari latar belakang yang di atas dapat dirumuskan permasalahan yaitu: Apakah pembelajaran model STAD (student teams achievement division) dapat meningkatkan prestasi belajar IPA siswa dikelas V SDN 06 Cakranegara ? Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: Meningkatkan prestasi belajar IPA dengan menggunakan model pembelajaran STAD (student teams achievement division) kelas V SDN 06 Cakranegara. Manfaat Penelitian Penelitian dilakukan agar dapat bermanfaat bagi semua kalangan terutama bagi siswa dan guru. Yang diperincikan sebagai berikut: Bagi Guru Diharapkan guru dapat menggunakan pembelajaran kooperatif model STAD, khususnya pada mata pelajaran IPA Diharapkan guru dapat mengembangkan pembelajaran kooperatif model STAD ini menjadi lebih baik lagi Diharapkan dapat meningkatkan profesional guru sebagai pendidik Bagi Sekolah Diharapkan meningkatkan prestasi sekolah secara keseluruhan Diharapkan meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan guru secara komprehensif dengan memperhatikan seluruh kompetensi sisiwa dan sumber belajar Diharapkan meningkatkan motivasi pembelajaran yang melibatkan secara aktif pada kegiatan berorientasi pada memori dengan memanfaatkan sumber belajar. Definisi Oprasional Untuk memudahkan agar tidak keliru pada materi yang diuraikan disini akan dijelaskan secara sinngkat kata-kata operasional yang terkait dengan judul skripsi yakni: STAD (student teams achievement division) merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah dilakukan proses belajar mengajar (PBM), dan bisa dilihat dari angka yang diperoleh setelah diberilan tes. SAIN adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang alam sekitar beserta isinya. Pemecahan Masalah Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada pembelajaran IPA, disini dapat digunakan pembelajaran model STAD yang mampu mengaktifkan dan meningkatkan aktiviitas siswa dalam belajar, khususnya dalam pembelajaran IPA, sehingga mampu meningkatkan prestasi siswa. Dengan cara Pembuatan model pembelajaran STAD yang menarik dan menyenanngkan Membuat RPP yang menarik dan menyenangkan bagi siswa dengan mengidentifikasi butir-butir dan pasangan-pasangan kunci. Menggunakan gambar-gambar alat bantu yang konkret BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Teori Pendukung 1. Model STAD (student teams achievement division) STAD (student teams achievement division) merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. Model ini dikembangkan pertama kali oleh Robert Slavin dan teman-temannya di John Hopkins University dan merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Model ini merupakan model interaksi yng terpusat pada kegiatan kelompok dan dapat diterapkan dalam kelas heterogen. Di dalamnya siswa diberikan kesempatan untuk melakukan kolaborasi dan elaborasi dengan teman sebaya dalam bentuk diskusi untuk memecahkan suatu masalah. Masing-masing kelompok beranggotakan empat siswa yang memiliki kemampuaan akademik yang heterogen, sehingga dalam satu kelompok akan terdapat satu siswa berkemampuan tinggi (Kt), dua siswa berkemampuan sedang (Ks), dan satu lagi siswa berkemampuan rendah (Kr). Dalam belajar IPA model STAD ini sangat tepat diterapkan karena dalam belajar IPA siswa akan sering dihadapkan pada pratikum sederhana atau pemecahan masalah. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Sri Yuni Astuti, 2001) adanya pengruh positif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa dengan menggunakan metode STAD, sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh I Made Suarjana (2000) Mengemukakan bahwa adanya peningkatan kemampuan guru dalam mengaplikasikan metode STAD dan prestasi belajar siswa cukup baik serta rata-rata kelas meningkat. Oleh karena itu, pada diskusi kelompok dengan teman sebaya untuk mengatasi permasalahan sangat efektif dilakukan, karena mereka biasanya menggunakan bahasa dan ungkapan-ungkapan yang sama. Sering terjadi siswa ternyata mampu melakukan tugas untuk menjelaskan dengan baik materi IPA yang sangat sulit kepada siswa lainnya, dengan mengubah penyampaiannya dari bahasa guru kepada bahasa yang dipahami oleh siswa sebaya. STAD terdiri atas lima komponen utama yakni: Penyajian kelas (Class persentation) Penyajian kelas yang dilakuakan didepan kelas secara klasikal. Guru menyajikan materi sebanyak satu atau dua kali, selanjutnya siswa disuruh berkeja secara kelompok untuk menyelesaikan permaslahan yang diberikan Kelompok (Team) Kelompok adalah siswa melaksanakan diskusi kelompok, dalam diskusi kelompok tersebut, siswa diharapkan saling membantu dalam menyelesaikan permasalahan. Kuis (Quizzes) Kuis adalah tes formatif dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan siswa secara kelompok maupun individu yang diberikan kepada siswa setelah diskusi kelompok selesai. Skor kemajuan individu (Individual Inprovement Scor) Skor kemampuan individu adalah perbandingan antara hasil tes awal dan tes akhir siswa. Skor awal merupakan skor rata-rata siswa secara individual pada kuis sebelumnya. Sedangkan yang dimaksud skor akhir adalah skor tes IPA yang diberikan setelah dilaksanakan pembelajaran kooperatif model STAD. Pengakuan Kelompok (Team Recognition) Pengakuan kelompok adalah pemberian predikat kepada masing-masing kelompok. Predikat diperoleh dengan melihat skor kemajuan kelompok. Skor kemajuan kelompok diperoleh dengan mengumpulkan kemajuan masing-masing anggota kelompok. Berdasarkan skor kemajuan kelompok tersebut guru memberikan hadiah berupa predikat kelompok yang memenuhi. STAD (student team achievement division) merupakan model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok kecil. Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam model pembelajaran ini sebagai berikut: Peserta didik diberikan tes awal dan diperoleh skor awal Peserta didik dibagi kedalam kelompok kecil 4-5 secara heterogen menurut prestasi, jenis kelamin, ras, atau suku Guru menyampaikan tujuan dan memmotivasi peserta didik Guru menyajikan bahan pelajaran dan pesserta didik bekerja dalam tim Guru membimbing kelompok peserta didik Peserta didik diberi tes tentang materi yang telah diajarkan Memberikan penghargaan Kebaikan dan Kelemahan Pembelajaran model STAD Landasan yang mendasari model pembelajaran kooperatif dalam pendidikan adalah falsafah homo homini socius. Falsafah ini menekankanbahwa manusia adalah mahluk sosial. Dengan bekerja sama maka kelangsungan hidup dapat terpenuhi. Sampai saat ini model pembelajaraan kooperatif belum banyak diterapkan dalam dunia pendidikan kita. Kebanyakan pengajar enggan untuk menerapkan sistem ini karena beberapa alasan. Menurut Kagan ataupun Slavin dalam bukunya Kauchak (1998:136,137) mengatakan adanya masalah menetapkan strategi belajar bersama di kelas yaitu ramai, gagal untuk saling mengenal, perilaku yang salah dan penggunaan waktu yang tidak efektif. Selain masalah-masalah yang kemungkinan terjadi, menurut disertainya Soewarso (1998:22-23) kelemahan-kelemahan yang mungkin terjadi dan keuntungan dalam pembelajaran kooperatif model STAD dipaparkan pada tabel sebagai berikut: Tabel 2.1 Kelemahan Keunggulan a. Pembelajaran kooperatif bukanlah obat yang paling mujarab untuk memecahkan masalah yang timbul dalam kelompok kecil. b. Adanya ketergantungan sehingga siswa yang lambat berfikir tidak dapat berlatih belajar mandiri. c. Pembelajaran kooperatif memerlukan waktu yang lama sehingga target pencapaian kurikulum tidak dapat dipenuhi. d. Pembelajaaran kooperatif tidak dapat menerapkan materi pelajaran secara cepat. e. Penilaian terhadap individu dan kelompok dan pemberian hadiah menyulitkan bagi guru untuk melaksanakannya Pelajaran kooperatif membantu siswa mempelajari isi materi pelajaran yang sedang dibahas. Adanya anggota kelompok lain yang menghindari kemungkinan siswa mendapatkan nilai rendah, karena dalam pengetesan lisan siswa dibantu oleh anggota kelompoknya. Pembelajaran kooperatif menjadikan siswa mampu belajar berdebat, belajar mendengarkan pendapat orang lain, dan mencatat hal-hal yang bermanfaat untuk kepentingan bersama-sama. Pembelajaran kooperatif menghasilkan pencapaian belajar siswa yang tinggi menambah harga diri siswa dan memperbaiki hubungan dengan teman sebaya. Hadiah atau penghargaan yang diberikan akan akan memberikan dorongan bagi siswa untuk mencapai hasil yang lebih tinggi. Siswa yang lambat berfikir dapat dibantu untuk menambah ilmu pengetahuannya. Pembentukan kelompok-kelompok kecil memudahkan guru untuk memonitor siswa dalam belajar bekerja sama. Dari uraian tabel di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mengatasi kelemahan-kelemahan, pelaksanaan pembelajaran kooperatif tidak digunakan untuk pelajaran IPA setiap hari. Pelaksanaannya dapat dilaksanakan satu bulan hanya beberapa kali. Sedangkan dari keuntungan yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan bagi seluruh anggota untuk mampu bekerja sama, bersosialisasi antar teman, belajar untuk saling berbagi pengetahuan dengan sesama anggota kelompoknya. 2 Prestasi Belajar Djamarah (1991 : 22-23) Prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Kalau perubahan tingkah laku adalah tujuan yang dimau dicapai dalam aktivitas belajar, maka perubahan tingkah laku itulah salah satu indikator yang dijadikan pedoman untuk mengetahui kemajuan individu dalam segala hal yang diperolehnya di sekolah. Kemajuan yang diperoleh itu tidak saja berupa ilmu pengetahuan, tapi juga berupa kecakapan atau keterampilan. Semuanya biasa diperoleh dibidang suatu mata pelajaran tertentu. Nurkancana (1969 : 20) Mengemukakan bahwa “prestasi belajar adalah hasil yang dicapai individu yang bersangkutan mengalami proses pendidikan atau setelah diajarkan suatu pengetahuan tertentu”. Dari pendapat ahli di atas dapat di simpulkan bahwa, perstasi belajar adalah suatu hasil yang diperoleh siswa dengan beberapa proses pendidikan dan perubahan tingkah laku yang dialami siswa yang dilalui dengan perjuangan pada mata pelajaran tertentu, baik berupa penguasaan pelajaran yang di lihat dari prilakunya, baik prilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Aktivitas belajar seseorang disyaratkan oleh banyak hal dalam rangka menuju keberhasilan yang diinginkan begitu juga adanya beberpa faktor yang mempengaruhinya. “Hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor internal (dari dalam individu) dan faktor eksternal (dari luar individu tau lingkungan)”. Faktor yang datang dari siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Seperti yang dikemukakan oleh Clark bahwa hasil belajar siswa disekolah 70 % dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30 % dipengaruhi oleh lingkungan (Sujana, 1987:39). Di samping faktor keterampilan yang dimiliki oleh siswa, juga ada faktor seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasan belajar, keturunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan fsikis. Model pembelajaran ini dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model STAD juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini sangat unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Adapun faktor yang berada diluar siswa yang menentukan atau mempengaruhi hasil belajar, dimana hasil belajar merupakan kualitas pengajaran yakni, tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pengajaran. Hasil belajar pada hakekatnya tersurat dalam tujuan pengajaran, oleh karena itu hasil belajar dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pengajaran. 4. Hubungan STAD Dengan Prestasi Belajar Dari penjelasan yang telah dipaparkan disini dapat disimpulkan hubungan STAD dengan prestasi belajar yakni STAD mampu mmengaktifkan aktivitas siswa sehingga mampu memicu ataupun meningkatkan prestasi siswa dalam belajar terrutama dalam pembelajaran IPA. Belajar merupakan suatu pengalaman yang dilakukan individu itu sendiri, sama halnya dalam model STAD yaitu pemmbelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa untuk terlibat langsung dan menggolah informasi sehingga mampu membangkitkan prestasi siswa. Jika mampu membangkitkan motivasi, minat dan perhatian siswa serta siswa mampu mengolah informasi dengan baik, maka dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Kegiatan belajar mengajar efektif dan kondusif, serta kualitas pengajaran yang bagus ataupun baik maka prestasi hasil belajar siswa akan meningkat. B. Kerangka Berpikir Dalam proses pembelajaran IPA diperlukan pengetahuan dan pemahaman guru yang baik tentang IPA sebagai suatu wahana pendidikan sehigga proses pembelajaran berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Kemudiasn untuk mendapatkan hasil maksimal dalam pembelajaran IPA dan untuk mengktifkan siswa dalam pembelajaran, perlu dilakukan proses pembelajaran yang lebih baik yaitu dengan memperhatikan perkembangan anak didik dan dengan metode pembelajaran yng tepat. Metode pembelajaran model STAD (student teams achievement division) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dan mengolah informasi sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efektif dimana struktur tujuan koopertif menciptakan situasi yang merupakan satu-satunya cara agar anggota kelompok dapat mencapai tujuan pribadi mereka, anggota kelompok harus saling membantu dan mendorong teman sekelompoknya untuk mencapai upaya maksimum. Berdasarkan uraian diatas maka pengelolaan model STAD dianggap perlu untuk dapat membantu dalam rangka memahami konsep atau isi pelajaran untuk meningkatkan prestasi belajar dan aktivitas siswa. Hipotesa Penelitian ¬ Jika pembelajaran dilakukan dengan menggunakan pembelajaran model STAD (student teams achievement division) pada mata pelajaran IPA maka dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas V semester II SDN 6 cakranegara. BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan kuantitatif : Data Kualitatif adalah data yang dilakukan dalam bentuk kalimat, kata-kata (verbalisme) dan data yang mendalam yang mengandung makna sebenarnya. Data kualitatif diperoleh dari data hasil observasi dalam proses pembelajaran. Data kuantitatif adalah data penelitian berupa angka-angka dan dianalisis menggunakan statistik. Data kuantitatif diperoleh dari hasil belajar. Data kuantitatif dalam penelitian ini adalah data tentang tingkat prestasi belajar siswa yang diperoleh melalui hasil evaluasi terhadap pembelajaran yang disusun oleh peneliti yang dikembangkan dari indikator-indikator kompetensi dasar materi pesawat sederhana dan alat-alat optik pada mata pelajaran IPA B. Objek dan Subjek Penelitian Objek Penelitian Objek penelitian tidakan kelas ini adalah siswa SDN 06 Cakranegara yang siswanya berjumlah 25 orang. Subjek Penelitian Subjek dari penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas V SDN 06 Cakranegara yang berjumlah 24 orang yang terdiri dari 17 siswa laki-laki dan 7 orang siswa perempuan. Untuk lebih jelasnya, nama-nama subjek penelitian dalam penelitian tindakan ini dapat di lihat pada tabel di bawah ini : Tabel 3.2 Berikut daftar nama siswa kelas V SDN 6 Cakranegara No Nama Siswa Jenis Kelamin L P 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Ahkmad Kholid Alawiyah Amrul Dawait Bq Wini Nursakbani Emiliani Ersa Erlangga Fitri Zahra Hamdani Hariadi Imam Tabroni Marzuki Muh. Padli Muh. Najamudin Muh. Sapriadi Muh. Satria Wirayuda Muhammad Kholid Mursini Ramdani Satrio Utomo Sofiayatul Wahyuni Sri Linda Yandi Zaenudin Andani Surya Aji Zulmi Zannatul Jannah L L L L L L L L L L L L L L L L L P P P P P P P Jumlah 17 7 24 C. Waktu & Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan November 2010 sampai dengan bulan Februari 2010 bertempat di SD Negeri 06 Cakranegara. Penetapan lokasi penelitian didasarkan pertimbangan bahwa rumah peneliti sangat dekat dengan sekolah tersebut dan penelliti pernah menjadi guru bantu pada sekolah tersebut, sehingga memudahkan dalam mencari data, peluang waktu yang luas dan subjek penelitian adalah siswa kelas VA. Indikator Penelitian Yang menjadi indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah pencapaian prestasi dan aktivitas siswa dengan menentukan sebagai berikut: Keberrhasilan penelitian ini dilihat dari prestasi belajar siswa apabila siswa telah mencapai ketuntasan secara kuantitatif 85%, dengan jumlah KKM 65 (sumber dari sekolah). 2. Keberhasilan penelitian ini dilihat dari kemampuan siswa minimal kategori aktif dalam proses pembelajaran IPA dengan menggunakan model STAD (Student Team Achievement Division). E. Prosedur Penelitian 1. Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan prestasi siswa dengan menggunaka model STAD (Student Team Achievement Division) pada mata pelajaran SAIN kelas V SDN 6 Cakranegara tahun pelajaran 2009/2010. Proses pelaksanaan tindakannya melalui 2 siklus yang setiap siklus terdiri dari 1 kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Setiap siklus terdiri dari tiga tahapan yaitu : 1) Perencanaan, 2) Pelaksanaan, 3) Observasi dan Refleksi. Refleksi siklus pertama menjadi acuan untuk perencanaan tindakan pada siklus berikutnya. Sebelum dilakukan penelitian, dibuat perencanaan penelitian seperti yang berikut ini: Permintaan izin ke sekolah, menyertakan surat rekomendasi dari fakultas. Wawancara dan observasi awal Mengidentifikasi permasalahan yang akan dipilih sebagai fokus dari penelitian tindakan kelas. Merencanakan spesifikasi pembuatan media, pemilihan metode sesuai dengan pembelajaran kooperatif model STAD dan pokok bahasan yang akan diberikan. Mengumpulkan data siswa dan buku paket Menyusun rencana penelitian (merencanakan penelitian menjadi beberapa siklus). Menyusun teknik-tenik observasi, format observsi dan pengembangannya. 2. Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri atas dua siklus kegiatan sebagai berikut. SIKLUS 1 2.1,1. Tahap Perencanaan (Planning) 1. Mengidentifikasi masalah 2. Menganalisis dan merumuskan masalah 3. Merancang Pembelajaran model STAD dan membuat RPP 4. Mendiskusikan penggunaan pembelajaran model STAD 5. Menyiapkan instrumen (angket, pedoman observasi, tes akhir) 6. Menyusun kelompok belajar siswa 7. Merencanakan tugas kelompok 2.1.2. Tahap Implementasi 1. Pendahuluan/ kegiatan awal Guru memberikan informasi kepada siswa tentang materi yang akan dipelajari, dan tujuan pembelajaran. Melakukan apersepsi yang berhubungan dengan materi IPA untuk memberikan motivasi dan merangsang siswa agar bersemangat dan tertarik pada materi yang akan dipelajari. 2. Kegiatan inti Guru menyajikan permasalahan yang akrab dengan kehidupan sehari-hari siswa melalui bantuan media pembelajaran terkait materi secara individu atau kelompok. Membimbing dan mengarahkan siswa memahami masalah, membuat rencana penyelesaian masalah, dan melaksanakan rencana (proses penyelesaian masalah) Tiap perwakilan kelompok atau individu menjelaskan penyelesaian masalah yang telah dibuatnya dengan tujuan untuk melihat kembali hasil akhir dan membahasnya bersama-sama. Disini guru menjelaskan kembali tentang permasalahan yang telah diselesaikan siswa dan mengaitkannya dengan konsep materi. Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau berpendapat. 3. Penutup (kegiatan Akhir) Bersama siswa menyimpulkan hasil materi yang telah disampaikan serta memberikan tes 2.1.3. Tahap Observasi dan refleksi (Reflection) Tahap Observasi Pada tahap ini dilaksanakan pengamatan terhadap KBM dengan menggunakan lembar observasi yang telah disusun oleh guru, untuk mengetahui performance guru pada saat mengajar dan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat KBM. Observasi dimaksudkan untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan tindakan dengan rancangan pembelajaran yang telah disusun, mengetahui apakah ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh guru pengajar dalam mempraktekkan seluruh komponen rancangan pembelajaran. Tahap Refleksi (Reflection) 1. Menganalisis temuan saat melakukan observasi pelaksanaan observasi 2. Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menggunakan pembelajaran model STAD dan mempertimbangkan langkah selanjutnya 3. Melakukan refleksi terhadap penerapan observasi 4. Melakukan refleksi terhadap kreativitas siswa dalam pembelajaran IPA 5. Melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa. 2.2 Siklus II Secara umum rancangan tindakan pada siklus II sama dengan rancangan pada siklus I. Namun demikian, pada saat tindakan dilakukan perbaikan-perbaikan sesuai dengan permasalahan yang ditemukan pada siklus I. Bentuk-bentuk perbaikan selengkapnya dapat dicermati pada BAB IV laporan ini. F. Instrument penelitian Instrument penelitian yang dikembangkan untuk keperluan pengumpulan data Tes Hasil belajar Tes hasil belajar digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru dalam pada mmenerapkan pembelajaran model STAD (student teams achievement division). Dalam penelitian ini jenis tes yang digunakan adalah tes dalam bentuk objektif. Tes yang digunakan adalah tes yang sudah diuji validitas dan reliabelitasnya. Lembar Observasi Aktivitas guru dan Siswa Lembar observasi aktivitas guru digunakan untuk memperoleh gambaran tentang proses pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kooperatif model STAD, melalui lembar observasi ini akan diketahui akativitas guru dan siswa menggunakan pembelajaran tersebut. Lembar observasi pembelajaran disusun mengacu pada skenario pembelajaran kooperarif model STAD. G. Pengumpulan Data Jenis Data Data dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi 2 yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif dalam penelitian ini adalah data tentang tingkat prestasi belajar siswa yang diperoleh melalui hasil evaluasi terhadap pembelajaran yang disusun oleh peneliti yang dikembangkan dari indikator-indikator kompetensi dasar materi pesawat sederhana dan alat-alat optik pada mata pelajaran IPA. Selanjutnya data yang bersifat kualitatif dalam penelitian ini berwujud berupa kata-kata atau verbalisme atau respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan pembelajaran model STAD. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu data yang bersumber dari siswa dan data yang bersumber dari guru. 1) Data berupa prestasi belajar dan aktivitas belajar siswa sebagai respon siswa terhadap pembelajaran yang menggunakan model STAD bersumber dari siswa yang diperoleh menggunakan metode observasi dengan instrument utama lembar observasi dan tes hasil belajar. 2) Data terkait kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran yang menggunakan model STAD bersumber dari guru yang diperoleh dengan menggunakan metode observasi dalam bentuk lembar observasi. H. Teknik Analisis Data Data Aktivitas Siswa Data aktivitas siswa dianalisis dengan cara sebagai berikut : Menentukan skor yang diperoleh siswa skor individu tergantung banyaknya prilaku yang dilakukan siswa dari sejumlah indikator yang diamati. Skor 5 diberikan jika jika semua deskriptor nampak, skor 4 diberikan jika 3 deskriptor nampak, skor 3 diberikan jika 2 deskriptor nampak skor 2 jika 1 deskriptor yang nampak dan skor 1 jika tidak ada deskriptor yang nampak. Menghitung skor aktivitas siswa A = dimana A = Skor rata-rata aktivitas belajar siwa Xi = Skor belajar masing-masing siswa n = Banyak siswa i = banyak item c. Menentukan mean ideal (Mi) dan Standar Deviasi Ideal (SDI) dengan rumus Mi = ½ (skorertinggi + skor terendah ) SDI = 1/6 (skor tertinggi – skor terendah) Sehingga, Mi = ½ ( 1 + 0 ) = 0,5 SDI = 1/6 ( 1 – 0 ) = 0, 17 Untuk menentukan kriteria, aktivitas belajar siswa ditentukan berdasarkan pada tabel berikut : Tabel 3.3 Pedoman Kriteria Aktivitas Siswa Interval Nilai Kriteria Mi + 1,5 SDi ; ≤ A Mi + 0,5 SDi ≤ A
Jang Geun Suk Jadi Model Pameran Foto
Posted on 7 Agustus 2010 by hestyunnie

Aktor Jang Geun Suk jadi salah satu model untuk pameran “Beautiful Eyes” [Tree J. Company] Perusahaan agensinya Oppa ini bilang, kalau pameran foto yg memamerkan keindahan mata ini merupakan pameran fotografer kenamaan Korea, Jo Se-hyun.
Menurut Geun Suk, “Ini menjadi satu hal istimewa untukku karena kerja sama dengannya, karena aku selalu mengaguminya. Selain itu, karena pekerjaanku yg harus mengekspresikan emosi di depan kamera dan karena aku suka temanya, makanya aku ikut serta.”
Pameran “Beautiful Eyes” ini berlokasi di Interalia art gallery di Gangnam-gu di selatan Seoul juga didukung seleb2 lain, seperti Park Ye-jin, Bae Jong-ok, Jang Mi-hee, pembaca berita Jung Eun-ah, vokalis Jo Sumi, pegolf Choi Kyoung-jun dan pekerja HAM, Han Bi-ya.
Keuntungan pameran ini akan disumbangkan ke organisasi kemanusiaan internasional World Vision untuk anak kurang mampu di dunia.
Tapi, Geun suk oppa emang jago banget berekspresi dengan matanya, kok, Unnie akui itu. Apalagi kalo senyum lebar kayak pas abis adegan nyasar2 gak jelas sama Go Mi Nam. Cute… banget…
Reporter : Lucia Hong luciahong@
Editor : Jessica Kim jesskim@
Credit: asiae.co.kr
sources: lovesears.blogspot.com
JKS Hello MV (by aeae2554)


